Bimbingan Teknis Penguatan Kapasitas Guru PJOK dalam Implementasi Kokurikuler

Blog
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Pemerintah Kota Mojokerto
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
738
27 Oct 2026
27 Oct 2026
Sign in From Google
Silahkan login untuk mengikuti event

DESKRIPSI KEGIATAN

Bimbingan Teknis Penguatan Kapasitas Guru PJOK dalam Implementasi Kokurikuler

1. Tema dan Tujuan Kegiatan

Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kapasitas Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) dalam Implementasi Kokurikuler merupakan kegiatan pengembangan kompetensi profesional guru yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 27 Oktober 2026, bertempat di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto, dengan jumlah peserta sebanyak 56 guru PJOK dari Sekolah Dasar negeri dan swasta di Kota Mojokerto.

Tema kegiatan berfokus pada penguatan kompetensi guru dalam merancang, mengembangkan, dan melaksanakan kegiatan kokurikuler yang terarah, bermakna, inovatif, serta selaras dengan tujuan pembelajaran. Dalam konteks pendidikan dasar, kegiatan kokurikuler menjadi sarana untuk memperkuat pembelajaran intrakurikuler melalui pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan aplikatif. Bagi mata pelajaran PJOK, pengembangan kegiatan kokurikuler tidak hanya diarahkan pada peningkatan keterampilan gerak dan kebugaran jasmani, tetapi juga pada pembentukan karakter, pengembangan kemampuan bekerja sama, kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, serta penerapan pola hidup sehat.

Melalui kegiatan ini, guru diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai keterkaitan antara capaian pembelajaran, delapan dimensi profil lulusan, pendekatan pembelajaran STEM, model Project Based Learning (PjBL), dan Pembelajaran Mendalam (PM). Pemahaman tersebut diperlukan agar guru mampu menyusun program kokurikuler yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, karakteristik lingkungan sekolah, serta tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Dengan demikian, kegiatan kokurikuler dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang mendukung perkembangan peserta didik secara menyeluruh, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, kesehatan, maupun karakter.

2. Uraian Materi Kegiatan

a. Indikator Delapan Dimensi Profil Lulusan (1 JP)

Materi ini membahas delapan dimensi profil lulusan sebagai arah pengembangan kompetensi peserta didik secara utuh. Delapan dimensi tersebut meliputi keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Dalam pembelajaran PJOK, kedelapan dimensi tersebut dapat dikembangkan melalui aktivitas jasmani dan kegiatan kokurikuler yang dirancang secara terencana. Sebagai contoh, kegiatan permainan beregu dapat melatih kolaborasi, komunikasi, disiplin, dan sikap menghargai orang lain. Kegiatan pengukuran kebugaran dapat mengembangkan kesadaran terhadap kesehatan, sedangkan penyusunan program aktivitas fisik sederhana dapat mendorong kemandirian, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.

Pembahasan materi ini menekankan pentingnya merumuskan indikator perilaku atau kompetensi yang dapat diamati selama kegiatan berlangsung. Guru perlu memastikan bahwa aktivitas kokurikuler tidak hanya berorientasi pada penyelesaian tugas atau pencapaian hasil olahraga, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perkembangan karakter dan kompetensi sesuai dengan dimensi profil lulusan yang ditargetkan.

b. Capaian Pembelajaran (1 JP)

Materi capaian pembelajaran membahas pentingnya memahami kompetensi yang diharapkan dikuasai peserta didik pada akhir fase pembelajaran. Dalam mata pelajaran PJOK, capaian pembelajaran menjadi dasar bagi guru untuk menentukan tujuan kegiatan, memilih aktivitas yang relevan, menyusun pengalaman belajar, serta menetapkan bentuk penilaian yang sesuai.

Guru perlu memahami hubungan antara capaian pembelajaran intrakurikuler dan pengembangan kegiatan kokurikuler. Kegiatan kokurikuler hendaknya dirancang untuk memperkuat atau memperluas pengalaman belajar peserta didik, bukan sekadar menjadi aktivitas tambahan yang terpisah dari tujuan pembelajaran. Misalnya, pembelajaran mengenai kebugaran jasmani dapat diperkuat melalui kegiatan pengamatan aktivitas fisik, pencatatan hasil pengukuran sederhana, penyusunan jadwal aktivitas fisik, dan refleksi mengenai pentingnya menjaga kesehatan.

Melalui materi ini, guru diharapkan mampu mengidentifikasi kompetensi yang akan dikembangkan, merumuskan tujuan kegiatan yang jelas, menentukan indikator keberhasilan, serta menyesuaikan bentuk aktivitas dengan tahap perkembangan dan kemampuan peserta didik sekolah dasar. Perencanaan tersebut menjadi dasar agar kegiatan kokurikuler memiliki arah yang jelas, relevan dengan kebutuhan belajar, dan dapat dievaluasi secara sistematis.

c. Pembelajaran STEM dengan Model Project Based Learning (PjBL) (2 JP)

Materi pembelajaran STEM dengan model Project Based Learning membahas penerapan pendekatan yang mengintegrasikan Science (sains), Technology (teknologi), Engineering (rekayasa), dan Mathematics (matematika) melalui kegiatan berbasis proyek. Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menghubungkan pengetahuan dari berbagai bidang dalam menyelesaikan permasalahan nyata melalui proses penyelidikan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Dalam pembelajaran PJOK, pendekatan STEM dapat diterapkan melalui proyek yang berkaitan dengan aktivitas fisik, kebugaran jasmani, kesehatan, keselamatan, dan pemanfaatan lingkungan sekolah. Sebagai contoh, peserta didik dapat merancang lintasan aktivitas fisik sederhana, mengukur waktu atau jumlah pengulangan gerakan, mencatat hasil pengamatan, membandingkan data, serta menyusun rekomendasi aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Guru juga dapat mengembangkan proyek pembuatan alat permainan sederhana dengan memperhatikan fungsi, keamanan, dan pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan sekolah.

Model PjBL mendorong peserta didik terlibat secara aktif sejak tahap identifikasi masalah hingga penyajian hasil proyek. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan, membantu peserta didik mengembangkan gagasan, mengawasi keselamatan aktivitas, dan memberikan umpan balik terhadap proses maupun hasil kerja. Penilaian dapat mencakup pemahaman konsep, keterampilan praktik, kreativitas, kolaborasi, kemampuan memecahkan masalah, dan tanggung jawab.

Penerapan STEM melalui PjBL dalam kegiatan kokurikuler diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar PJOK agar tidak terbatas pada aktivitas olahraga konvensional. Peserta didik memperoleh kesempatan untuk memahami hubungan antara gerak, kesehatan, sains, pengukuran, dan pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

d. Program Inovatif Pembelajaran Kokurikuler Terintegrasi Pembelajaran Mendalam (PM) (2 JP)

Materi ini membahas pengembangan program kokurikuler yang inovatif dengan mengintegrasikan prinsip Pembelajaran Mendalam (PM). Pendekatan ini menekankan pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sehingga peserta didik tidak hanya mengikuti aktivitas, tetapi juga memahami tujuan, menerapkan pengetahuan, dan merefleksikan pengalaman yang diperoleh.

Dalam pelaksanaan PJOK, prinsip berkesadaran dapat diterapkan dengan membantu peserta didik memahami tujuan aktivitas, mengenali kemampuan diri, dan memperhatikan keselamatan selama bergerak. Prinsip bermakna diwujudkan melalui kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan nyata, seperti menjaga kebugaran, membiasakan aktivitas fisik, menerapkan perilaku hidup sehat, dan membangun kebiasaan bekerja sama. Sementara itu, prinsip menggembirakan dikembangkan melalui aktivitas yang menantang sesuai kemampuan, memberikan ruang partisipasi, menghargai perbedaan, dan menciptakan suasana belajar yang positif.

Program kokurikuler terintegrasi PM dapat dikembangkan melalui kegiatan seperti proyek kebugaran jasmani, kampanye perilaku hidup sehat, permainan tradisional, aktivitas fisik berbasis lingkungan sekolah, atau kegiatan kolaboratif yang menggabungkan gerak, pengetahuan kesehatan, dan penguatan karakter. Contoh tersebut merupakan alternatif pengembangan program yang dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kebutuhan peserta didik.

Guru perlu merancang kegiatan dengan memperhatikan tujuan, tahapan pelaksanaan, pembagian peran, kebutuhan sarana dan prasarana, aspek keselamatan, serta mekanisme evaluasi. Evaluasi tidak hanya menilai hasil akhir kegiatan, tetapi juga proses keterlibatan peserta didik, perkembangan sikap, kemampuan bekerja sama, penerapan pengetahuan, dan refleksi terhadap pengalaman belajar. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan kokurikuler diharapkan dapat memperkuat pembelajaran intrakurikuler sekaligus mendukung perkembangan peserta didik secara holistik.

3. Pelaksanaan dan Narasumber

Kegiatan bimbingan teknis dilaksanakan selama enam jam pelajaran (6 JP), dengan alokasi materi meliputi indikator delapan dimensi profil lulusan selama 1 JP, capaian pembelajaran selama 1 JP, pembelajaran STEM dengan model PjBL selama 2 JP, serta program inovatif pembelajaran kokurikuler terintegrasi Pembelajaran Mendalam selama 2 JP.

Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yaitu Dra. Endang Soenarijati, M.Pd. dan Mochamad Alimas Huda, S.Pd., yang keduanya merupakan Pengawas Sekolah Ahli Madya. Materi disusun untuk mendukung peningkatan pemahaman dan kemampuan guru dalam menghubungkan arah kebijakan pembelajaran dengan praktik perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kokurikuler di sekolah.

4. Hasil yang Diharapkan

Melalui kegiatan ini, guru PJOK diharapkan mampu meningkatkan kompetensi dalam menyusun program kokurikuler yang terencana, kontekstual, inovatif, dan berorientasi pada pengembangan peserta didik. Guru juga diharapkan dapat mengintegrasikan capaian pembelajaran, delapan dimensi profil lulusan, pendekatan STEM, model PjBL, dan prinsip Pembelajaran Mendalam ke dalam kegiatan yang sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar.

Secara lebih lanjut, kegiatan ini diharapkan mendorong terciptanya pembelajaran PJOK yang lebih aktif, kolaboratif, menyenangkan, dan bermakna. Program kokurikuler yang dikembangkan diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan gerak dan kesadaran hidup sehat, tetapi juga memperkuat karakter, kreativitas, penalaran kritis, kemandirian, komunikasi, dan tanggung jawab peserta didik.

Dengan demikian, Bimbingan Teknis Penguatan Kapasitas Guru PJOK dalam Implementasi Kokurikuler menjadi salah satu upaya pengembangan kompetensi pendidik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Kota Mojokerto melalui perencanaan kegiatan yang selaras dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan perkembangan peserta didik.