Bimbingan Teknis Penyusunan Bahan Ajar Capaian Pembelajaran Terbaru bagi Guru Pendidikan Agama Islam

Blog
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Pemerintah Kota Mojokerto
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
207
28 Oct 2026
28 Oct 2026
Sign in From Google
Silahkan login untuk mengikuti event

DESKRIPSI KEGIATAN

Bimbingan Teknis Penyusunan Bahan Ajar Capaian Pembelajaran Terbaru bagi Guru Pendidikan Agama Islam

1. Gambaran Umum dan Tema Kegiatan

Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Bahan Ajar Capaian Pembelajaran Terbaru bagi Guru Pendidikan Agama Islam merupakan kegiatan pengembangan kompetensi profesional guru yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 28 Oktober 2026, bertempat di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto. Peserta kegiatan berjumlah 56 orang yang terdiri atas guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Dasar negeri dan swasta di Kota Mojokerto. Kegiatan berlangsung selama 6 jam pelajaran (JP), dengan narasumber Dra. Endang Soenarijati, M.Pd. dan Mochamad Alimas Huda, S.Pd., yang keduanya merupakan Pengawas Sekolah Ahli Madya.

Tema utama kegiatan adalah penguatan kompetensi guru PAI dalam menyusun dan mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan Capaian Pembelajaran (CP) terbaru, kebutuhan belajar peserta didik, serta perkembangan pendekatan pembelajaran yang efektif, kontekstual, dan bermakna. Bahan ajar memiliki peran penting dalam membantu guru menerjemahkan capaian pembelajaran menjadi tujuan pembelajaran, materi, aktivitas belajar, dan evaluasi yang sistematis. Oleh karena itu, guru perlu memiliki kemampuan untuk memilih, mengorganisasi, mengembangkan, dan menyesuaikan bahan ajar agar sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar.

Dalam pembelajaran PAI, penyusunan bahan ajar tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan keagamaan, tetapi juga pada pembentukan sikap, pembiasaan perilaku terpuji, pengembangan keterampilan beribadah, serta penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Bahan ajar perlu disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami, contoh yang dekat dengan kehidupan peserta didik, kegiatan yang mendorong partisipasi aktif, serta penilaian yang dapat memberikan gambaran mengenai ketercapaian tujuan pembelajaran.

Kegiatan ini juga mengangkat penguatan pemahaman guru terhadap delapan dimensi profil lulusan, capaian pembelajaran, pembelajaran STEM melalui model Project Based Learning (PjBL), dan program inovatif pembelajaran kokurikuler yang terintegrasi dengan Pembelajaran Mendalam (PM). Keempat materi tersebut memiliki keterkaitan dalam mendukung guru merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada pengembangan kompetensi, karakter, dan pengalaman belajar peserta didik secara menyeluruh.

2. Uraian Materi Kegiatan

a. Indikator Delapan Dimensi Profil Lulusan (1 JP)

Materi ini membahas delapan dimensi profil lulusan yang menjadi arah pengembangan kompetensi peserta didik secara utuh, yaitu keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Bagi guru PAI, pemahaman terhadap delapan dimensi tersebut penting untuk memastikan bahwa proses pembelajaran berkontribusi terhadap pembentukan karakter dan pengembangan kemampuan peserta didik. Dimensi keimanan dan ketakwaan memiliki keterkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran PAI, terutama dalam mengembangkan pemahaman ajaran Islam, membiasakan ibadah, dan membentuk perilaku yang mencerminkan nilai-nilai agama. Sementara itu, dimensi kewargaan dapat diperkuat melalui pembelajaran tentang tanggung jawab, toleransi, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama.

Dimensi penalaran kritis dan kreativitas dapat dikembangkan melalui kegiatan menganalisis contoh perilaku sehari-hari, mengidentifikasi tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, serta menyusun solusi terhadap permasalahan sederhana di lingkungan keluarga dan sekolah. Dimensi kolaborasi dan komunikasi dapat diperkuat melalui diskusi kelompok, presentasi hasil belajar, dan kegiatan berbagi pengalaman. Adapun kemandirian dan kesehatan dapat dikembangkan melalui pembiasaan tanggung jawab pribadi, kebersihan diri, pola hidup sehat, serta pelaksanaan ibadah secara teratur sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Dalam penyusunan bahan ajar, guru perlu menghubungkan materi dengan indikator perilaku atau kompetensi yang dapat diamati. Dengan demikian, bahan ajar PAI tidak hanya berisi penjelasan konseptual, tetapi juga menyediakan aktivitas yang membantu peserta didik memahami, menerapkan, dan merefleksikan nilai-nilai yang dipelajari.

b. Capaian Pembelajaran (1 JP)

Materi capaian pembelajaran membahas pemahaman terhadap kompetensi yang diharapkan dicapai peserta didik pada akhir fase pembelajaran. Guru perlu memahami CP yang berlaku sebagai dasar dalam merancang tujuan pembelajaran, menentukan materi esensial, memilih strategi pembelajaran, dan menyusun penilaian yang relevan.

Dalam konteks PAI di sekolah dasar, capaian pembelajaran menjadi acuan agar penyusunan bahan ajar selaras dengan kompetensi yang harus dikembangkan pada setiap fase. Guru perlu memperhatikan ruang lingkup materi, kedalaman pembahasan, karakteristik peserta didik, serta kesinambungan pembelajaran antarkelas. Bahan ajar yang disusun juga perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menghubungkan pengetahuan keagamaan dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, ketika mengembangkan bahan ajar tentang kebersihan dan bersuci, guru dapat menggabungkan penjelasan konsep dengan ilustrasi, urutan praktik, contoh penerapan, pertanyaan pemahaman, dan latihan refleksi. Pada materi perilaku terpuji, guru dapat menggunakan cerita kontekstual, studi kasus sederhana, diskusi, dan kegiatan pembiasaan yang membantu peserta didik memahami alasan pentingnya menerapkan perilaku tersebut.

Materi ini juga relevan dengan kemampuan guru dalam melakukan analisis CP sebelum menyusun bahan ajar. Guru perlu memastikan bahwa tujuan pembelajaran, isi materi, aktivitas peserta didik, dan instrumen penilaian saling berkaitan. Dengan perencanaan tersebut, bahan ajar yang dihasilkan diharapkan lebih terarah, sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan mendukung ketercapaian kompetensi yang ditetapkan.

c. Pembelajaran STEM dengan Model Project Based Learning (PjBL) (2 JP)

Materi pembelajaran STEM melalui model Project Based Learning membahas penerapan pendekatan yang mengintegrasikan sains (Science), teknologi (Technology), rekayasa (Engineering), dan matematika (Mathematics) dalam kegiatan pembelajaran berbasis proyek. Pendekatan ini mendorong peserta didik untuk mengamati permasalahan, mengumpulkan informasi, merancang solusi, melaksanakan kegiatan, dan menyampaikan hasilnya.

Model PjBL memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar melalui proses yang terstruktur. Tahapannya dapat mencakup penentuan pertanyaan mendasar, perencanaan proyek, penyusunan jadwal, pelaksanaan dan pemantauan proyek, penilaian hasil, serta refleksi pengalaman belajar. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing peserta didik dalam mengembangkan gagasan, bekerja sama, menggunakan sumber belajar, dan menyelesaikan tugas sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Dalam penyusunan bahan ajar PAI, pendekatan STEM dan PjBL dapat dikembangkan melalui proyek lintas disiplin yang tetap mempertahankan tujuan pembelajaran agama. Sebagai contoh, pada tema kebersihan dan bersuci, peserta didik dapat membuat poster edukasi tentang penggunaan air secara bijak, mengamati kebiasaan menjaga kebersihan di sekolah, atau menyusun media sederhana mengenai tahapan menjaga kebersihan diri. Pada kegiatan tersebut, peserta didik dapat mengembangkan pemahaman nilai keagamaan sekaligus keterampilan mengamati, mengolah informasi, membuat produk, dan mempresentasikan hasil.

Penerapan pendekatan ini perlu dirancang secara proporsional. Integrasi STEM bukan berarti seluruh materi PAI harus dipaksakan memuat semua unsur STEM, melainkan digunakan ketika sesuai dengan tujuan pembelajaran dan konteks materi. Guru juga perlu mempertimbangkan usia peserta didik, ketersediaan sarana, waktu pelaksanaan, serta keamanan kegiatan.

Melalui materi ini, guru diharapkan mampu mengembangkan bahan ajar yang lebih interaktif dan aplikatif, sehingga peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar melalui penyelidikan, praktik, kerja kelompok, dan penyelesaian masalah yang relevan dengan kehidupan mereka.

d. Program Inovatif Pembelajaran Kokurikuler Terintegrasi Pembelajaran Mendalam (PM) (2 JP)

Materi ini membahas pengembangan program kokurikuler yang inovatif dan terintegrasi dengan Pembelajaran Mendalam. Kegiatan kokurikuler diarahkan untuk memperkuat, memperkaya, atau memperdalam pengalaman belajar peserta didik melalui aktivitas yang dirancang selaras dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan perkembangan mereka.

Pembelajaran Mendalam menekankan pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Prinsip berkesadaran mendorong peserta didik memahami tujuan kegiatan, mengetahui hal yang sedang dipelajari, dan menyadari perkembangan kompetensinya. Prinsip bermakna membantu peserta didik menghubungkan materi dengan pengalaman dan situasi nyata. Prinsip menggembirakan mendorong terciptanya suasana belajar yang positif, menantang sesuai kemampuan, serta memberikan ruang partisipasi aktif kepada peserta didik.

Dalam pembelajaran PAI, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui kegiatan yang menghubungkan pengetahuan agama dengan pembiasaan dan tindakan nyata. Contohnya adalah kegiatan pembiasaan perilaku jujur dan bertanggung jawab, proyek kepedulian sosial, kampanye kebersihan lingkungan sekolah, kegiatan berbagi, atau penyusunan media edukasi mengenai adab dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut dapat dirancang sebagai alternatif program kokurikuler sesuai dengan tujuan pembelajaran, kebijakan sekolah, dan kebutuhan peserta didik.

Guru perlu menyusun program dengan memperhatikan tujuan kegiatan, keterkaitan dengan capaian pembelajaran, tahapan pelaksanaan, pembagian tugas, kebutuhan sarana, dan bentuk evaluasi. Bahan ajar pendukung dapat berupa lembar aktivitas, panduan proyek, bahan bacaan, media visual, pertanyaan pemantik, serta lembar refleksi peserta didik.

Evaluasi kegiatan hendaknya tidak hanya berfokus pada produk akhir, tetapi juga memperhatikan proses keterlibatan peserta didik, kemampuan bekerja sama, tanggung jawab, pemahaman materi, serta penerapan nilai-nilai yang dipelajari. Melalui pendekatan tersebut, kegiatan kokurikuler diharapkan dapat mendukung pembentukan karakter dan penguatan kompetensi peserta didik secara lebih kontekstual.

Materi ini juga menegaskan pentingnya inovasi guru dalam mengembangkan bahan ajar yang dapat digunakan secara fleksibel, baik untuk pembelajaran di kelas maupun sebagai pendukung kegiatan kokurikuler. Dengan demikian, pembelajaran PAI diharapkan lebih dekat dengan kehidupan peserta didik dan tidak terbatas pada kegiatan membaca, menghafal, atau menjawab pertanyaan tertulis.

3. Pelaksanaan Kegiatan dan Narasumber

Bimbingan teknis dilaksanakan selama enam jam pelajaran dengan pembagian alokasi waktu sebagai berikut:

  1. Indikator delapan dimensi profil lulusan selama 1 JP.

  2. Capaian pembelajaran selama 1 JP.

  3. Pembelajaran STEM dengan model Project Based Learning selama 2 JP.

  4. Program inovatif pembelajaran kokurikuler terintegrasi Pembelajaran Mendalam selama 2 JP.

Kegiatan menghadirkan Dra. Endang Soenarijati, M.Pd. dan Mochamad Alimas Huda, S.Pd., keduanya merupakan Pengawas Sekolah Ahli Madya. Kehadiran narasumber diharapkan dapat memberikan penguatan pemahaman mengenai perencanaan pembelajaran, pengembangan bahan ajar, dan penerapan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan dasar.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh penguatan konseptual mengenai keterkaitan capaian pembelajaran, profil lulusan, pembelajaran berbasis proyek, dan program kokurikuler. Materi tersebut dapat menjadi dasar bagi guru untuk mengevaluasi bahan ajar yang telah digunakan serta mengembangkan bahan ajar yang lebih sistematis, kontekstual, dan berorientasi pada ketercapaian tujuan pembelajaran.

4. Hasil yang Diharapkan

Pelaksanaan bimbingan teknis ini diharapkan meningkatkan kemampuan guru PAI dalam menganalisis capaian pembelajaran, merumuskan tujuan pembelajaran, memilih materi esensial, mengembangkan aktivitas belajar, dan menyusun evaluasi yang sesuai dengan kompetensi peserta didik. Guru juga diharapkan mampu mengembangkan bahan ajar yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan penguatan karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan kemandirian.

Selain itu, guru diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran yang lebih variatif melalui pendekatan STEM dan PjBL ketika relevan dengan materi, serta merancang program kokurikuler yang terintegrasi dengan prinsip Pembelajaran Mendalam. Penerapan tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah, tujuan pembelajaran, dan sumber daya yang tersedia.

Secara keseluruhan, kegiatan ini merupakan upaya pengembangan kompetensi profesional guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAI di Kota Mojokerto. Penguatan kemampuan menyusun bahan ajar diharapkan mendukung proses pembelajaran yang lebih terarah, efektif, kontekstual, dan bermakna. Dengan bahan ajar yang dirancang secara tepat, pembelajaran PAI diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi keagamaan, tetapi juga membantu mereka menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari serta membentuk karakter yang baik sejak usia sekolah dasar.